NEWS UPDATE :  

Berita

SOPAN SANTUN

Sopan Santun 
Nayla Maulida Tamimi



Mimi adalah anak yang berada di kelas 9 di sekolahnya, ia memiliki sifat sangat ceria, selalu berfikir positif, dan penuh dengan semangat.

Saat ia sedang bermain dengan handphone nya tiba tiba. “Tring” handphone ku berdering pertanda ada pesan yang masuk. Saat kulihat ternyata itu pesan dari ibu guru yang membahas bahwa hari senin nanti sudah masuk sekolah. Saat membaca pesan itu aku sangat bahagia karena sudah lama tidak masuk sekolah,selama ini kami hanya belajar dari rumah secara daring dikarenakan wabah covid19. Malam itu pun aku langsung mempersiapkan perlengkapan sekolah ku seperti seragam sekolah,alat tulis, atribut sekolah, dan buku buku pelajaran. Karena besok harus masuk pada pukul 07.30 wib sudah pasti aku harus tidur cepat malam ini agar besok aku tidak terlambat.

Keeskokan hari nya, setelah melaksanakan ibadah solat subuh, aku langsung bergegas mandi, dan memakai seragam sekolah ku, kemudian aku sarapan pagi Bersama keluargaku. Waktu hampir menunjukkan pukul 07.15 wib. Aku bergegas menghampiri ibu untuk berpamitan sambil menyium tangan ibu. “Ibu aku berangkat sekolah dulu ya” ucapku sambil menyium tangan ibu.“Iya hati hati ya nak” balas ibu kepada ku.

 Setelah itu aku langsung menghampiri ayah yang sudah menungguku di mobil. Kami pun berangkat, sepanjang jalan menuju sekolah aku berbincang bincang dengan ayah. “Ayah, hari ini aku senang sekali karena setelah sekian lama tidak bersekolah, akhirnya pada hari ini kami sudah bisa bersekolah Kembali, aku bisa bertemu teman teman dan guru” ucapku dangan hati yang sangat gembira.

“Apakah kamu sesenang itu?” balas ayah dengan wajah tersenyum yang melihat ke arah ku.

Iya yah aku senang sekali, dan juga hari ini ada mata pelajaran yang aku gemari” tambahku.

“Ayah senang sekali melihat mu penuh semangat seperti ini” ucap Ayah.

Sesampainya di sekolah, sebelum turun dari mobil aku berpamitan dengan ayah sembari menyium tangan nya dan mengatakan “Selamat jalan ayah hati hati ya,ingat jangan melanggar peraturan lalu lintas” ucapku seraya bergurau kepada ayah. “Hahaha iya nak ayah tidak akan lupa kok” balas ayah tersenyum.

Tepat di gerbang sekolah perasaan ku deg deg an, Bahagia, dan terharu karena akan bertemu dengan teman teman. Karena pihak sekolah mewajibkan penerapan protocol Kesehatan, dihalaman sekolah kami semua berbaris dengan rapi, dengan menjaga jarak untuk menghindari kerumunan diantaranya adalah pengecekan suhu oleh guru piket, kemudian dilanjutkan dengan mencuci tangan Sebelum memasuki ruang kelas.

 Saat berbaris tiba tiba seorang siswi kelas 7 berlari dan menyenggol badanku, ia langsung berdiri dihadapan ku tanpa ikut antrian. Saat itu kufikir ah sudahlah mungkin ia sedang buru buru, jadi kubiarkan ia begitu saja. Sesampainya dikelas aku melihat ada teman teman ku dan itu sangat membuatku gembira, masih ada sekitar 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Aku dan teman teman ku bercengkrama, saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman selama pembelajaran tidak tatap muka.

 “Kring….kring…kring….” bel jam pertama dimulai, tepat pukul 07.30 wib, ibu Resky memasuki ruang kelas seraya mengucapkan salam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap bu Resky. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” balas murid murid. Sebelum memulai pelajaran, kami membaca doa belajar Bersama sama dan langsung memulai pembelajaran.

Dua jam berlalu sudah dan bel pergantian pelajaran pun berbunyi “Kring….kring...”. “Sekian pembelajaran kita hari ini saya akhiri assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap bu Resky. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” balas murid murid. Tidak lama setelah itu terlihat ibu Grace yang sedang berjalan menuju kelas kami, kami semua langsung duduk dengan rapi sembari menunggu ibu Grace sampai di kelas. “Hay anak anak, bagaimana kabar kalian hari ini?, sudah lama ya kita tidak bertemu langsung seperti ini..” ucap bu Grace. “Halo juga bu, kami semua sehat bu..” balas murid murid. “Yasudah kita mulai saja ya pembelajaran kita” tambah bu Grace. “Iya bu” balas kami semua.

Waktu pun berlalu dan terdengar suara bel istirahat berbunyi. “Pembelajaran kita sampai disini saja ya, sampai bertemu minggu depan,sekian terimakasih” ucap bu Grace. “Iya terimakasih bu” balas murid murid.

“Mira, Nad kita ke kantin yuk” ucapku.

“Ayo Mimi” balas Nad dan Mira.

 Dikantin aku melihat siswi kelas 7 tadi melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan. Dia meninggikan suara nya kepada ibu kantin, saat membayar ia menyampakkan uang, dan menaikkan kaki saat sedang makan. Kupikir itu sudah sangat kelewatan, jadi sepulang sekolah nanti aku berencana untuk memanggilnya dan menasehatinya.

Bel pulang berbunyi, aku bergegas keluar kelas untuk menemui adik kelas itu. Saat mencari cari, kulihat ia sedang berdiri di depan perpuskaan.

“Hay dik lagi ngapain?” tanyaku.

“…..” ia tak menjawab sepatah kata pun sambil melihatku sinis.

“Kenalin kaka adalah kaka kelas mu, nama kaka Mimi” ucapku.

“Boleh kaka tahu namamu?” tambahku.

“Namaku ayu” jawabnya ketus.

“Ayu apakah kamu punya waktu sebentar, kaka ingin berbicara dengan mu” ucapku penuh harap.

 “Ya, asalkan jangan lama” jawab Ayu.

“Pertama, boleh ku tahu kamu tinggal dengan siapa sekarang?” tanyaku gugup.

“Aku tinggal Bersama nenek ku” jawabnya.

“Bagaimana dengan oranng tua mu, dimana mereka?” tanyaku.

“Mereka sudah bertahun tahun tidak pulang karena ada urusan pekerjaan di luar negri” jawabnya.

“Ah…jadi apa mungkin karena ia tinggal Bersama nenek nya, jadi dia tidak terlalu diajari sopan santun?, yah mungkin saja nenek nya sudah sangat tua sampai tidak sanggup untuk mengurus dia lagi” batinku.

“Aku ingin tanya, apakah kamu tahu sopan dan santun?” tanyaku.

“Ya aku tahu, hanya yang muda yang harus bersikap sopan kepada yang lebih tua” jawabnya.

“Tidak kamu salah Ayu, bukan hanya yang muda saja bersikap sopan kepada yang lebih tua, tapi sikap sopan itu harus dilakukan oleh semua orang, siapapun itu, dimana pun, kepada siapapun, dan kapanpun” jelasku.

“Seperti yang kamu lakukan di pagi hari tadi, kamu tidak mengikuti antrian saat berbaris, kemudian ketika kamu di kantin kamu meninggikan suara mu, melempar uang, dan saat makan kamu menaikkan kaki mu, itu sangat lah hal yang tidak baik dilakukan” tambahku.

“Menurutmu apakah yang kamu lakukan itu pantas dilakukan?”tanyaku.”

“….” Ayu pun terdiam sembari memandangku.

“Tidak kak” tambahnya sambil melihatku dan menggeleng geleng kan kepala nya.

“Nah kamu sudah tau jawabanya, jadi kuharap kamu lebih akan memperhatikan sikap mu dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi” ucapku sambil tersenyum.

“Terima kasih ka Mimi karna telah mengajarkanku banyak hal” jawabnya sambil tersenyum.

“Wah kufikir kamu tidak bisa tersenyum dan ya sama sama” ucapku sambil bergurau.

“Ih apasi ka, hahaha yasudah aku pulang dulu ya, sampai jumpa” ucap ayu sambil melambaikan tangan nya.

“Iya sampai jumpa ayu dan semngat ya!!” balasku sambil membalas lambaian tangan nya.

“Iya kak” jawab ayu.

Beberapa waktu kemudian, Ayu sudah menjadi seorang yang sangat sopan dan santun, ia tidak lagi kasar, tidak meninggikan suara saat dikantin, tidak menaikkan kaki saat makan, dan lain lain. Dan juga ia menjadi anak yang sangat ceria sepertiku, aku sangat puas, dan bahagia melihat Ayu yang seperti sekarang.